Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Surprise Yang Tidak Surprise

Surprise Yang Tidak Surprise

Dulu, saya pernah berdiskusi dengan rekan kerja tentang memberi sesuatu ke pasangan. Memberi sebuah benda tanpa sepengetahuan atau permintaan pasangan—katakanlah surprise—terdengar membahagiakan, bahkan romantis dan penuh perhatian.



Namun seperti biasa, saya menganggap diskusi akan lebih hangat dan bernilai kalau ada pro dan kontra. Dan benar saja, waktu itu saya punya pandangan berbeda yang mungkin dianggap "nggak banget" oleh sebagian besar orang.

Saya sadar, menyampaikan pandangan berbeda pasti berisiko menimbulkan stigma. Tapi buat saya, itu adalah harga yang wajar untuk sebuah kejujuran berpikir.

Lagi pula, pandangan saya ini bukan asal beda atau sekadar biar diskusi ramai. Saya punya dasar: data, pengalaman, dan logika yang bisa diuji—meski mungkin butuh waktu untuk membuktikannya.

Saya berargumen: Mungkin akan lebih baik kalau si penerima hadiah dilibatkan langsung.

Contohnya:

> "Kamu pengen apa? Yuk kita cari bareng. Pilih yang kamu banget, aku yang bayarin."

Mungkin kesan surprisenya jadi hilang, tapi pendekatan ini hampir tanpa risiko.

Risiko apa, sih?
Reaksi.

Nah, di sinilah letaknya.
Setiap orang punya preferensi berbeda, dan latar belakang juga memengaruhi pilihan. Reaksi seseorang saat menerima hadiah bisa mencerminkan seberapa sesuai hadiah itu dengan ekspektasinya.

Memang sih, secara umum orang akan senang diberi sesuatu. Tapi dalam konteks pasangan, yang seringkali basa-basi jadi jembatan menuju keterbukaan, reaksi itu bisa membuka ruang kritik yang sehat.

Misalnya, reaksi seperti ini:

> "Aah ya ampun, makasih banget oleh-olehnya, luv sekebon!"

Tapi kemudian:
"Mahal ya ini barangnya… padahal agak tipis juga… eh ini ada sobek dikit… dipake jalan juga kayaknya bakal geser-geser deh."

(Tentu komentar itu keluar setelah melihat price tag yang masih nempel.)

Akhirnya:

> "Duh, sebenernya ga usah juga nggak apa-apa… itu kan emang mahal."



Coba bayangkan kalau pakai cara saya tadi.

Karena pasangan yang memilih sendiri, baik atau buruknya sudah diketahui dan bisa diterima. Ga ada keluhan karena semua sesuai ekspektasi.

Memang, tidak ada efek kejutan…
Tapi risikonya minim.
Atau, bisa dibilang: resikonya sudah terdistribusi sejak awal.

Perpanjang SIM C Online: Niatnya Gabut, Ending-nya Dikejar Deadline

Perpanjang SIM C Online: Niatnya Gabut, Ending-nya Dikejar Deadline

[Perpanjang SIM C Online: Niatnya Gabut, Ending-nya Dikejar Deadline]



Hari itu, 4 Juni 2025. Cuaca mendung, jalanan lengang, dan hati tenang—setidaknya sebelum pikiran mulai ngajak diskusi.

Pulang kerja, entah kenapa, kok rasanya ada yang ngganjel. Kayak habis ngelupain sesuatu yang penting. Tapi apa? Bensin.. full, jas hujan nggak ketinggalan..

Lalu ting!

"SIM!"

Iya, Surat Izin Mengemudi. SIM C saya. Ingatan langsung nendang ke kenyataan bahwa bulan lalu, bulan Mei, adalah bulan kelahiran saya. Yang artinya... SIM saya expired dong?! 😨

Seketika panik. Motor langsung saya pinggirin, buka dompet, ambil SIM, dan... scan mata seperti detektif CSI. Di pojok kanan bawah: "Berlaku sampai: 04-07-2025"

Lho?

Bukannya Mei? Bukannya expired kemarin-kemarin?

Ternyata... oh iya! Saya baru ingat, dulu terakhir kali perpanjang SIM itu pas masa PPKM Covid. Satpas tutup, dan ada kebijakan perpanjangan massal. Jadi SIM yang mestinya expired di Mei, dapat jatah mundur sampai Juli. Alhamdulillah masih selamat sebulan lagi... πŸ™

Tenang... tenang... hidup ini tidak sesingkat isi bensin motor beat.


Gabut Berujung Serius

Sampai rumah, karena sudah kadung panik dan keringetan, saya iseng cari tahu soal perpanjangan SIM online. Katanya zaman sekarang lebih gampang, tinggal install aplikasi Korlantas POLRI, isi data, bayar, kirim, jadi.

Kata siapa gampang?

Download sih cepet. Tapi pas mau daftar? Selalu gagal.

Entah server-nya lagi puasa sore itu, atau jaringan saya yang mirip sinyal kehidupan mantan—kadang muncul, kadang ghosting.

Akhirnya saya tinggal dulu, ngadem sambil makan dan mandi. Malamnya, sekitar jam 9, iseng buka lagi. Eh... langsung bisa daftar! 😁



Mulailah saya nonton tutorial, baca-baca blog, nonton TikTok orang-orang yang katanya sukses perpanjang SIM sambil rebahan. Lalu karena belum ngantuk, saya coba lanjut prosesnya.


Tes Psikologi di Tengah Malam

Prosesnya lumayan juga. Harus isi form kesehatan dulu, lalu masuk ke tahap Tes Psikologi.

Biayanya 57.500. Murah sih. Tapi pertanyaannya... nggak murah.

"Anda sering merasa sedih tanpa sebab?"

"Anda ingin menyakiti seseorang?"

"Anda sering tidak bisa tidur karena memikirkan masa depan?"

Lah, saya kira mau perpanjang SIM, kok jadi nanya hal pribadi? wkwkwk... becanda,,,

Tapi saya jalani, satu per satu, sambil mikir: "Kalau gagal ini, masa iya saya harus terapi dulu baru boleh naik motor lagi?"

Sekitar jam 11 malam lebih, selesai sudah ujian psikologi penuh teka-teki itu. Lulus. Alhamdulillah. Lanjut bayar 110.501 untuk proses perpanjangan SIM.

Total biaya: 168.001. Total waktu: 1 jam 30 menit. Total emosi: campur aduk.

Semua selesai tepat pukul 23:30 WIB, saya tutup laptop sambil tepuk dada: "Gabut malam ini produktif juga, ya."


Plot Twist Seperti Film Korea

Besoknya, saya cerita panjang lebar ke istri.

Saya ceritakan perjuangan melewati tes psikologi yang kayak uji mental jadi orang sabar, dan betapa praktisnya perpanjangan SIM online. Istri mengangguk penuh simpati... atau mungkin setengah ngantuk, saya nggak yakin.

Tiga hari berlalu. Tanggal 7 Juli 2025.

Sore itu, selepas magrib, entah kenapa ada perasaan ganjil. Lagi-lagi, insting muncul. Saya buka kembali aplikasi Korlantas, cek status pengajuan SIM. Masih "diproses."

Lalu saya cek kalender.

Deg.

Sekarang bulan JULI.

Bukan Juni.

JULI!

Tanggal saat itu: 7 Juli 2025.

Berarti... SIM saya expired 4 Juli 2025.

Dan kapan saya daftar perpanjangan?

4 Juli 2025.

Jam 23:30.

WAKTU 30 MENIT SEBELUM EXPIRED!!! 😱

Saya kira waktu itu masih sebulan lagi. Ternyata... itu adalah hari terakhir.

Yang niat awalnya iseng isi waktu gabut, ternyata adalah aksi penyelamatan SIM terakhir di menit-menit injury time! 😭

Kalau malam itu saya malas, mungkin sekarang saya lagi antre bikin SIM baru sambil menghafal rambu-rambu.


Akhirnya...

Proses verifikasi memakan waktu dua minggu. Setiap hari saya cek status SIM kayak lagi nunggu chat balasan dari orang penting.

Tegang, was-was, dan sempat mikir: "Kalau gagal, saya harus ngulang dari nol?"

Tapi alhamdulillah... pada 21 Juli 2025, SIM saya resmi jadi dan dikirim ke rumah.

Namun... ada satu hal.

Tanggal expired SIM baru saya bukan 4 Juli, tapi... 16 Juli 2030.

Ternyata, karena proses cetaknya tanggal 16 Juli, ya sistem nulis expired-nya ikut tanggal itu. Nggak lagi ngikut tanggal awal SIM lama.

Jadi bisa dibilang... SIM ini lahir kembali dari batas waktu yang hampir dilupakan.





Kesimpulan: Jangan Meremehkan Kalender!

Dari kisah ini, saya belajar tiga hal penting:

  1. Jangan panik duluan. Bisa jadi SIM belum expired, hanya kita yang lupa timeline sejarah hidup.
  2. Tes psikologi itu penting... dan bikin mikir, "Apakah saya terlalu serius menjalani hidup ini?"
  3. Dan yang paling utama: Jangan sok yakin bulan ini masih Juni, padahal udah Juli.

Karena bisa saja, niat gabut jam 11 malam itu... adalah satu-satunya alasan kamu nggak perlu ulang bikin SIM dari nol. πŸ˜…


Semoga pengalaman ini bisa jadi pengingat buat kamu semua. Jangan lupa cek masa berlaku SIM, jangan percaya sama pikiran sendiri soal tanggal, dan kalau gabut... mending rebahan aja. Aman. Damai. Nggak bikin deg-degan.

Kalau kamu suka artikel ini, silakan share. Dan kalau kamu pernah punya pengalaman kocak soal SIM atau urusan birokrasi lainnya, yuk cerita juga. Biar kita bisa... tertawa bersama dalam duka administratif. πŸ˜„πŸ›΅πŸ“…

Kudu Dipikirin Dalem-Dalem, Baru Ngerti

Kudu Dipikirin Dalem-Dalem, Baru Ngerti


Kudu Dipikirin Dalem-Dalem, Baru Ngerti...


Udah sering banget baca hal ini, tapi kok rasanya pemahamannya berbeda ketika dipikirin dalem-dalem. Bayangin kalau kita yang ada di posisi itu... Jangan-jangan selama ini cuma mata dan mulut aja yang baca, tapi otak sama hati diem-diem aja... πŸ˜‚


Waktu itu, saya mikir, "Kudu banget nih investasi uang." Semakin engeh soal inflasi, saya sadar jangan sampai uang yang ada di tabungan nguap begitu aja. πŸƒπŸƒπŸƒ


Seiring waktu, mulai ada tanda-tanda biologis menurun... Wah, gejala jompo mulai menyerang! πŸ˜‚


Akhirnya, mulai kepikiran, "Untuk apa nabung dan investasi uang, kalau nggak bisa nikmatin hasilnya nanti karena kondisi fisik udah menurun?" Fix! Benerin makan, kencengin olahraga... Jadilah sekarang punya goal investasi baru: sehat! ✨


Investasi Itu Bukan Cuma Uang


Kemarin, saya sempat diskusi panjang lebar dengan teman kerja tentang profil risiko investasi. Menariknya, kami sampai pada kesimpulan bahwa profil risiko seseorang biasanya akan cenderung turun seiring bertambahnya usia. Misalnya, ketika usia semakin tua, kita lebih memilih investasi yang low-risk daripada high-risk, karena nggak cuma mikirin diri sendiri, tapi juga tanggungan keluarga. πŸ₯Ί


Kalau dipikir-pikir, faktor-faktor ini bisa memperlambat pencapaian tujuan finansial kita, sementara kita juga dikejar usia produktif. Low-risk aman, tapi lama nyampenya. High-risk, cepat, tapi deg-degan!


Low-Risk vs High-Risk

Sekarang, mari kita bahas lebih dalam lagi soal pilihan investasi.


Low-Risk

Kebanyakan investasi low-risk alokasinya biasanya di pasar uang atau obligasi. Selama ini, obligasi cenderung aman—bahkan di masa-masa krisis, seperti saat COVID-19, obligasi masih stabil. Secara awam, saya rasa lebih dari 90% aman, deh. πŸ˜…


High-Risk

Nah, untuk high-risk, ini yang paling cepat buat nyampein tujuan finansial. Tapi, risikonya gede banget buat saya pribadi. Kalau nggak intens memantau kondisi keuangan atau laporan pasar, kita bisa terlambat tahu dan keburu floating loss. 😬


Kalau udah floating loss gini, saya jadi mikir, “Gimana ya, jangan sampai jadi realized loss." πŸ˜‚ Selain itu, ada ketidakpastian ekonomi dan regulasi yang bikin makin susah. Banyak perusahaan yang terpaksa layoff karena kehabisan kas untuk operasional. πŸ₯Ί


Jadi, setelah dipikir-pikir, baiknya pilih low-risk atau high-risk?


Investasi Itu Untuk Menjaga Nilai

Melihat profil risiko saya yang lebih condong ke low-risk, saya akhirnya menyadari kalau tujuan investasi itu bukan untuk cepat kaya, tapi untuk menjaga nilai uang agar tidak tergerus inflasi. Di sisi lain, saya juga mulai menyadari satu hal: keberuntungan atau luck, meskipun sulit dihitung, bisa memperbesar kemungkinan sukses.


Dengan mempertimbangkan semua itu, saya rasa pilihan saya adalah tetap di low-risk. Tapi, gimana caranya agar tujuan finansial bisa tercapai dengan tepat waktu, meski memilih risiko yang rendah?


Investasi yang Lebih dari Uang

Ternyata jawabannya sederhana: perbesar pendapatan. Agar tujuan finansial tercapai lebih cepat, kita perlu terus berinovasi dan meningkatkan skill. Baik itu soft skill maupun hard skill, tergantung kebutuhan. Investasi skill adalah salah satu cara akselerasi pencapaian tujuan finansial. Semakin cepat tujuan tercapai, semakin baik, bukan?


Kesimpulan

Jadi, investasi itu bukan cuma tentang uang. Ada tiga jenis investasi yang saya lihat penting:


  1. Investasi Uang: Untuk menjaga nilai mata uang agar tidak tergerus inflasi.
  2. Investasi Sehat: Kesehatan adalah bagian dari tujuan finansial, karena tanpa tubuh yang sehat, kita nggak bisa menikmati hasil kerja keras kita.
  3. Investasi Skill: Skill adalah aset yang bisa terus diperdalam dan dijual. Dengan memiliki skill, kita bisa mempercepat pencapaian tujuan finansial.

Lalu, apa langkah selanjutnya? Mari kita terus belajar dan berusaha, semoga ada waktu untuk merenung lebih dalam lagi. Hehe...

Aplikasi Iseng Yang Ternyata Dibutuhkan Orang Lain

Aplikasi Iseng Yang Ternyata Dibutuhkan Orang Lain

Diminggu ini saya bersemangat belajar kembali bahasa pemrograman yang sudah lama saya tinggalkan, karena memang 3 tahun belakang ini sedang asyik sekali dengan dunia javascript, khususnya nodejs sehingga sedikit melupakan bahasa-bahasa pemrograman lain yang sempat meramaikan malam-malam saya ketika gabut.

Semangat ini terpicu karena memang ada salah satu orang yang menurut saya, tidak muda lagi namun masih sangat semangat belajar bahasa pemrograman yang sudah saya tinggalkan ini, jadi bahasa pemrograman yang dimaksud adalah Visual Basic.

Dulu, lebih dari 10tahun yang lalu awal mula saya terjun kedunia visual basic adalah karena merasa bahwa ini adalah bahasa pemrogaraman yang cukup mudah dan masih tinggi demandnya dikalangan mahasiswa, tapi secara pribadi kala itu alasannya adalah diantara bahasa pemrograman yang pada waktu itu dipelajari :

  • Borland C++
    Jujur saya merasa salah masuk jurusan ketika diawal semester harus bertemu dengan bahasa pemrograman ini, selain karena tampilan seperti terminal command prompt yang hitam putih, tapi juga belum tau ini penerapannya akan kemana si hitam putih ini.
  • Borland Delphi
    Karena memang pada waktu belajar ini saya sebagai assisten laboratorium, jadi cukup lumayan kenyang menerima pertanyaan dari mahasiswa lain dan merasa kok kaya ada yang aneh ya dengan debuggernya delphi ini, terkadang menemukan bug yang saya sendiri bingung menghadapinya, namun ketika di restart & re-running bug tersebut hilang.. nah? kadang Sensitive case juga pada waktu itu cukup membuat rumit, karena code editornya pada waktu itu belum bisa mengkoreksi jika ada 1 sintaks yang salah dalam penulisannya.
  • Java NetBeans
    Waktu itu yang membuat sedikit malas adalah sebelum terjun ke GUI nya, diajarkan membuat GUI full sintaks, gila sih ini, buat tombol 1 aja bisa lama banget, walaupun hasilnya cukup custom karena dibuat secara manual. namun karena metode belajarnya yang kurang tepat untuk saya, yang butuh bahasa pemrograman yang endingnya kemana, bisa apa aja & praktik pada core nya, jadi saya kurang tertarik, padahal si java ini masiih tinggi sekali demandnya hingga saat ini dan bisa memenuhi kebutuhan pada waktu itu.
  • PHP
    bahasa pemrograman web sejuta umat ini ngebuat saya ilfill karena code editor pada waktu itu tidak secanggih visual code hari ini, jadi pada waktu diajarkan via code editor : PHP Coder, nah si PHP Coder ini mirip notepad dengan sedikit warna dan tanpa autotype. kebanyang dong, belajar web programing pakai ini, apalagi pasti sepaket dengan HTML, CSS, Javascript ketika ada 1 sintaks php kurang titik koma (;), selayar ga nampil semua dan harus bacain script dari atas kebawah buat nyari kutu.
  • Visual Basic 6
    ini adalah bahasa pemrograman yang membuat saya semangat ngoding, karena dari sini saya banyak membuat aplikasi untuk mahasiswa lain, alias jadi joki.. haha.. sebenernya bahasa pemrograman ini sudah cukup lumayan jadul waktu itu, tapi karena demandnya masih tinggi dan mudah untuk didevelop, yowis, sikat ae.. 

Bahkan setelah lulus masih sempat beberapa kali membuat aplikasi berbasis visual basic, hingga akhirnya merasa tidak nyaman melihat IDE nya yang kotak-kotak dibanding dengan system operasi windows 7 waktu itu dan mencoba migrasi ke versi .NET yang cukup lumayan enak dipandang.


sempat membuat aplikasi inventory menggunakan VB.NET ini, namun sepulang kerja sudah tidak bisa lagi ngoprek karena kepala sudah nyut-nyutan jadi ditinggal sepotong, peninggalannya ada di artikel ini :


dan juga sempat develop juga aplikasi yang bersinggungan dengan pengalaman kesulitan ditempat kerja, yaitu saya butuh system reminder terkait dengan karyawan kontrak, sempat dishare cara penggunaannya diakun youtube saya  : https://youtu.be/NradsRc2RPg dan dibuatkan dokumentasi diblog ini juga di artikel :



setelah dipost dan terindex dengan baik di youtube dan google, ternyata aplikasi reminder karyawan selesai kontrak itu banyak mendapat banyak peminat untuk dikembangkan dan komentar positive, namun sayangnya saat itu saya tidak banyak merespon karena keterbatasan koneksi internet dan waktu. jadi saya hanya memantau saja aplikasi saya dari google drive yang banyak permintaan request untuk download.


termasuk orang yang saya ceritakan diawal yang saya tidak banyak respon,hingga suatu hari, mungkin karena kesal DM di media sosial sering diabaikan, ybs coba mengirim pesan via contact form yang terkoneksi dengan whatsapp pribadi saya.


Dilihat profilenya, mungkin usianya lebih senior dari saya namun semangatnya ini yang membuat saya bergerak, karena ybs juga ternyata punya minat yang sama dengan vb.NET jadi mungkin ybs. pantau saya via akun channel youtube hingga blog dari artikel lama, dan memberanikan diri untuk mengirim pesan secara pribadi untuk membeli source code aplikasi reminder pkwt sebagai referensi ybs. belajar.


Ybs. juga sempat bercerita sempat membuat aplikasi sederhana perpustakaan dari buku tutorial yang baru saja dibelinya dan mencoba menguhubungi beberapa programmer walaupun sempat diabaikan dan akhirnya menemukan saya walaupun diawal abai, akhirnya saya respon juga


Semangatnya yang luar biasa, akhirnya membuat saya bergerak lagi menghidupkan artikel program aplikasi reminder pkwt dan mencoba update fitur-fitur yang ada di aplikasi tersebut.


Aplikasi sederhana yang berawal dari kesulitan saya, dan coba saya selesaikan dengan cara saya sendiri, ternyata cukup banyak dibutuhkan oleh orang lain.Tidak penting didevelop menggunakan bahasa pemrograman apa, yang penting bisa menyelesaikan masalah yang ada.

Cerita Bodoh Dengan Printer L805 - 😭😭Nangis Dipojokan 😭😭

Cerita Bodoh Dengan Printer L805 - 😭😭Nangis Dipojokan 😭😭

Sudah hampir seminggu ini dipusingkan dengan masalah kerjaan sampingan. Dimulai dari bahan baku yang mepet, order online yang datangnya parsial dan yang terakhir yang paling bikin mumet adalah printer.

Sebenarnya masalah printer ini udah cukup lumayan lama, yaitu masalah hasil warna yang kurang maksimal, alias agak blur dan warna yang tidak akurat, tapi selama ini juga masalah tersebut solving dengan cara head cleaning alias pembersihan head yang memang sudah tersedia secara default di aplikasi epson.


Ngomongin tentang head cleaning printer, saya baru dapat fakta mencengangkan terkait hal ini yang saya sendiri menyesal baru tau sekarang. Ternyata kalau kita melakukan head cleaning itu, sama saja seperti membuang tinta. kenapa? karena saya punya cerita sedih akan hal ini.


Selama punya printer ini, mungkin sekitar >5 tahunan yang lalu hingga minggu kemarin setiap kali hasil print kurang maksimal, seperti warna kurang tajam alias blur, warna tidak valid dan bergaris biasanya saya akan melakukan head cleaning sampai dengan masalah tersebut selesai.


Biasanya butuh 3 sampai 5 kali head cleaning, namun dibeberapa bulan kemarin, butuh lebih dari itu hingga minggu kemarin setelah belasan bahkan puluhan kali head cleaning masalah tidak selesai juga. Mulailah coba cek tangki warna yang memang harusnya ada tangki yang sisa sedikit, tapi ternyata perkiraan tersebut agak meleset karena ketika dicek kedua tangki warna tersebut dibawah batas minimal (masih ada tapi sedikit).


Buru-buru juga kan langsung beli warna Cyan dan Magenta alias tangki 2 yang kritis itu dan sebelum beli online, coba pastiin lagi mana warna yang sudah mendekati habis, ternyata warna kuning alias yellow sudah mendekati jadi yowis, biar 1 ongkir belilah ketiga warna tersebut dengan kode warna 673 untuk printer epson L805.
(fyi : ini kondisi belinya deg-degan karena lagi dikejar orderan dan takut nyampe barangnya lama)


Sekitar 2 harian, akhirnya sampai 3 botol tinta yang diharapkan. Tidak banyak bak bik buk langsung masukin tangki setelah pulang kerja, langsung head cleaning lagi supaya nampak hasil sempurna yang diharapkan.



berulang kali nyoba belum berhasil sampai pegel ngeklik tombol-tombol disettingan printer. alhasil otomasi aja deh, pake software tambahan seperti JitBit (ini sejenis aplikasi record macro screen, merekan aktifitas klik berdasarkan koordinat kursor), diulang lah hingga tak terhitung proses head cleaning.

Sampai akhirnya ng'check tangki sepintas dan kaget, karena perasaan tinta harusnya penuh semua tapi ternyata ada 1 warna lagi yg masuk kategori minimal alias mau habis, yaitu warna hitam.


Hadeuh, mana dikejar orderan.
Akhirnya dihari minggu itu, setelah ke dokter gigi buat nambal gigi, langsung melipir ke arah cikarang, kali aja ada di SGC (Sentra Grosir Cikarang), karena setahu saya disana ada tukang jual laptop dan aksesorisnya.


Coba tanya-tanya sana sini kode warna yang dituju, ada 1 toko yang menjual tapi ternyata tidak ada warna hitam. Aneh ya, padahal ini pan warna basic yang hampir semua printer pakai.. πŸ˜“


Mikir-mikir kalau ke BCP (Bekasi Cyber Park) pasti jauh, akhirnya putus asa, keluar SGC coba nyari ke toko komputer lainnya. Akhirnya nemu 1 toko dan ngejual kode 673 untuk warna hitam tapi dengan harga yang jauh dari pasaran, Rp. 165.000, aish.. nggaaakk,,, mahal banget, fyi : ini yang original ya, kemarin beli online skitar Rp. 133.000.


Akhirnya coba tanya ada yang KW nya atau tidak, nyoba nyoba juga dan mastiin bisa atau ngga. ditawari lah tinta dengan merk BluePrint dengan harga Rp. 50.000. Fyi : mungkin online cuma 25 sampai 35ribuan kali ya, tapi ya namanya kepepet sama orderan, yauda diambil deh BluePrint ini.


Sampai rumah, langsung nyoba print warna hitam, ternyata ga jauh beda hasilnya dan cenderung sama warna hitamnya dengan yang asli.


Balik lagi dengan masalah blur, bergaris, warna tidak valid dan nyobain lagi hingga beberapa kali head cleaning. ditengah percobaan, ada notif :


"Masa Pakai Bantalan Tinta Printer Telah Berakhir"
namun karena sudah berpengalaman dengan beginian, akhirnya pakai aplikasi resetter yang beberapa tahun lalu digunakan untuk reset jika bertemu notif seperti ini.



Sat set sat set, akhirnya resetlah jadi 0, namun setelah beberapa kali coba print kok keluar lagi notifnya. kepo sana sini via googling, katanya sih karena pad tinta dibelakang perlu dibersihkan karena penuh. Okeh lah, kita coba bongkar sedikit covernya dan terkejutlah hamba ini.

ternyata seluruh bagian bawah printer sudah banjir dengan tinta, tidak hanya pad tinta yang penuh tapi se-body bagian bawah printer juga terendam tinta. Diminggu kelabu itu baru menyadari kebodohan yang bertahun-tahun dijalankan :


  • Ketika dapat notif bantalan tinta penuh, reset tanpa cek kondisi didalamnya.
    ini seharusnya jangan ya, langsung aja buka covernya ambil padnya bersihkan atau jika sudah jelek, ganti saja busanya.

  • Hobby sekali dengan head cleaning otomatis via aplikasi ketika ada masalah kualitas print.
    ternyata printer akan membuang sedikit tinta ke pad/bantalan/pembuangan untuk membersihkan tinta pada selang atau head. Sebagai informasi tambahan, ketika printer dihidupkan ia juga otomatis membersihkan head dengan membuang sedikit demi sedikit tinta agar kerak atau tinta yang mengering bisa terbuang

Kebayang dong, 2 aktifitas bodoh yang dilakukan bertahun-tahun itu, yang akhirnya tinta bertumpuk dan mengalir deras didalam body printer. lengkaplah minggu itu, tangan penuh tinta untuk membersihkan kebodohan bertahun-tahun.


Dikejar orderan, tinta kebuang percuma, printer mandi tinta, ah... triple kill..


cerita masih berlanjut, kriting ngetik malem-malemπŸ˜‚